Unit Kegiatan Mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Blogroll

  • Catatan Proses Kreatif SICK-LUS

    Memilih berkiprah di ranah teater harus benar-benar timbul dari hati yang jujur, ikhlas untuk terus berproses. Untuk terus dan terus menghidupkan bumi kita. Panggung kita. Pada garapan Sick-Lus ini, 85% dari para pemain merupakan benih-benih baru, mereka adalah anggota Teater Awal ke-27 yang bulan November 2014 kemarin dilantik menjadi anggota Teater Awal.
    Mereka seperti keajaiban yang hadir pada kegersangan tanah kami, rumah kami, mereka datang dengan memberi semangat dan berjuta-juta harapan.

  • Mau Dikemanakan Proses Kami?

    "Hasil tidak akan jauh berbeda dari proses, dan proses pun tidak akan mendustakan hasil". Itulah kalimat yang sering ditanamkan kepada insan-insan seni teater, begitu juga Teater Awal Bandung, salah satu unit kegiatan mahasiswa Universitas Islam Negeri Bandung. Tidak ada proses yang di lakukan dengan main-main, meski berteater sejatinya ialah bermain, tapi dalam tahapan yang lebih serius. Karena proses itu sendiri yang bisa menunjukan eksistensi kami, Teater Awal Bandung dengan karya-karya kami.

  • Teater Awal Bandung- Semangat Berkarya Tak Lekang oleh Fasilitas

    UIN Sunan Gunung Djati Bandung atau biasa di kenal sebagai UIN Bandung, saat ini sedang mengalami perbaikan pembangunan. Proses yang memakan waktu tersebut mengakibatkan banyaknya bangunan yang diruntuhkan dengan alasan akan dibangun yang lebih baru dan lebih megah. Tapi, semua hal didunia ini tak luput dari proses dan dalam proses menuju kesana tentu juga tidak luput dari pengorbanan. Salah satu bentuk pengorbanan adalah kurangnya bangunan yang seharusnya menjadi tempat beberapa kegiatan mehasiswa. Sehingga itu bisa menghambat kinerja mahasiswa.

Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 April 2012


Oleh. Pungkit Wijaya*

Teu sudi teuing kudu sarua jeung baju si Suminta!
(Karyana)

          Dua orang lelaki berhadapan, saling menikam dalam pandangan matanya. Dadanya dibusungkan. Kerut muka kedua lelaki itu seperti membawa dendam yang tersimpan. Tubuh, muka, dan matanya seperti membawa bahan-bahan empiris ke dalam dunia imajiner (panggung) . Karyana ( Acep Bolo), Suminta (Eki Abeng) langsung membuka adegan dengan bahasa tubuh yang mengisyaratkan permusuhan, lalu mereka mengisi panggung kiri dan kanan. Saling berkata dan mencaci, memecah ruangan. Mengumbar sumpah serapah, terlihat sekali kebencian ditabur. Seluruh penonton tercenung.
Kata-kata serapah dilontarkan tokoh Karyana (Bolo) dalam pembuka dialog pertunjukan Satru. Kata-kata serapah itu menjadi titik tolak, bagaimana kebencian menjadi penting dalam permusuhan dengan seteru, apalagi dalam realitas politik. Karyana (Bolo) sebagai seteru Suminta (Eki), maka tak pelaknya mereka berdua saling membalas serapah itu. Dengan saling melontarkan kata-kata kebencian atau sinisme menjadi penting dalam membangun konflik suatu cerita, dua tokoh itu yang berebut kekuasaan Kuwu (Desa) dalam naskah drama Satru karya Nazarudian Azhar.
            Kendati demikian, Satru menjadi salah satu pilihan naskah dari Festival Drama Basa Sunda (FDBS-12) Teater Sunda Kiwari, FDBS 12 itu pun telah berlangsung pada tanggal 12 Maret-5 April di GK Rumentang Siang. Naskah tersebut pula yang dipinang Teater Awal UIN Bandung untuk dipentaskan. Tersebutlah pada tanggal 13 Maret Teater Awal mementaskannya, sebagai salah satu teater kampus yang sudah melanglang buana di jagat pementasan itu, Teater Awal mementaskannya kembali di Audotorium UIN SGD Bandung tanggal 27-28 Maret, di Sutradarai Dani Jauharudin dan segenap awak Teater Awal.
            Panggung tidak seperti pementasan di galeri atau panggung teater. Konsep natural dipilih para punggawa artistik dari Teater Awal. Panggung menjadi sederhana. Pemain, penonton berada dalam satu jajar, tidak ada stage yang dikhususkan. Hanya podium dibelakang tempat para pemusik. Kain-kain hitam melengkup aula, dan permainan lampu menyorot kedua tokoh tersebut kata-kata meluncur dari kedua mulut Karyana (Bolo) dan Suminta (Eki) sebagai pembelahan peristiwa dalam beberapa adegan (satu panggung).
Misalnya, salah satu istri Karyana (Bolo) yakni  Darsih ( Yanti ‘Ateu’) yang terus menjadi tokoh pelengkap dalam percakapan. Seperti membayangkan dua peristiwa, dari rumah berbeda, realitas keluarga saheng,. Ditambah beberapa tokoh yang keluar masuk panggung seperti halnya Sodik (Dado), Kodar (Martin) sebagai tim sukses, Kodar (Martin) menjadi juru kampanye dan pemimpin Laskar Suminta, sementara Sodik (Dado) menjadi juru kampanye Karyana.
Para penonton menikmati pementasan tersebut. Dengan suguhan aktor yang memikat. Bahasa realise dan suspense menjadi ciri dari dialog para aktor dan seluruh adegan dalam Satru. Sementara suara-suara satire sesekali membuat penonton tertawa terbahak-bahak. Suara-suara sindir itu mengajak penonton untuk memungut rentetan alur cerita, desa (keluarga) seteru dengan beberapa peristiwa yang dirangkum dalam satu panggung. 

Luka Kultral dan Realitas Politik

Di tambah dengan realitas keluarga saheng. Dialog-dialognya bernas. Sementara ada ingatan yang melandasi seteru itu. Luka kultural terus tertanam dalam dua keluarga yang sempat menjadi lawan politik, Luka kultural itu sungguh sulit disembuhkan. Karyana adalah keturunan mantan Kuwu Sahri dan Suminta anak dari calon Kuwu Darta. Akhirnya luka itu terus menganga, dan saling membenci. Percepacahan dan mosi tidak percaya antara satu sama lain (calon kuwu dan mantan kuwu). Tentu saja, yang menjadi generasi penerus Karyana dan Suminta digambarkan berbeda partai. Sebagai kedua calon kuwu, mereka merasa dirinya paling baik dan akan memajukan desa. Dengan lonataran visi dan misi.
Begitu pula terkena implikasinya yakni Rahmat (Rizal) dan Dini (Irma), dua tokoh anak muda yang sedang menjalin asmara. Bila dikata sedang pageugeut-geugeutna. Rahmat (Rizal), anak lelaki dari Raden Suminta dan Dini (Irma) dari Drs Karyana. Di tengah cerita tokoh Rahmat (Rizal) dan Dini (Irma) yang dibesarkan oleh keluarga itu saling mengenal dan akhirnya bertaut kasih.

Rahmat: Iraha rek alakurna nya?
Dini     : Nya engek we mun urang nikah, kang…
Rahmat: Lila keneh atuh, pan iteungna ge kuliah keneh dua taun deui…
Dini     : Katambah deui ayeuna rek pemilu kuwu. Beuki angot. Itu ieu nganggap satru. Lieur Iteung mah…
Rahmat : Sarua, akang ge lieur, Nyi…

Seperti dalam dialognya, Rahmat (Rizal) dan Dini (Irma) menjadi penentu atau antiklimaks dalam cerita. Sementara, dalam kampanye tersebut dangdut menjadi pilihan, pada semesta saheng. Tokoh Imas Vibrator, sebagai penyanyi dangdut, membuat heboh, kedua belah pihak yang akan mencalonkan kuwu, tokoh imajinatif Imas Vibrator pun dihadirkan dalam panggung.
Kesalahan bahasa dalam dialog menjadi penting. Walhasil, pemahaman Imas Vibrator menjadi kabur. Suminta (Eki) memahami Imas Vibrator itu sebagai alat Kontrasepsi dan Karyana (Bolo) sebagai penyanyi dangdut. Dan penambahan konflik, ketidaksetujuan terhadap penyanyi dangdut. Acara dangdut tersebut mengejutkan, pada akhirnya membuat seteru itu menjadi bersatu di akhir pertunjukan yang sengaja dihadirkan Rahmat (Rizal Miun) dan Dini (Irma) sebagai akal bulus mereka agar dua seteru itu berdamai.
Sebelumnya, panggung menjadi terbelah, sisi lain penonton harus melihat ke depan (panggung utama) sisi lain, realitas dangdut dihadirkan para penata pemusik yang dikomadoi (Davi Duyek) dan semua penonton melihat pementasan dangdut itu, tokoh MC (Fahmi Ayams) yang kemayu, menjadi pelengkap suara satire itu. Imas Vibrator pun tiba, bergoyang. Byuurrr! Tariiik! Sambil bergoyang diselingi dengan adegan seteru, itulah keunikan pertunjukan satru di auditorium UIN. Penonton seperti masyarakat yang sebenarnya, ikut dipaksa melihat realitas politik (seteru) dan dangdut.
Menarik jika dicermati, suara satire itu sebenarnya menggambarkan realitas sosial-politik dalam pemilihan kuwu (lurah). Realitas politik (pertujukan) yang memberi pesan dan makna terdalam, meski bahasanya sindir, kepada masyarakat (khususnya kampus) tergambar oleh beberapa awak team sukses, bahwa masyarakat dituntut cerdas, tidak hanya menginginkan politik uang (money politik) apalagi para politikus atau pejabat bagaimana sikap sebaiknya mendidik masyarakat.
Begitulah seni, gambaran atau replika meminjam Aristoteles dari semesta. Dari seni khsusnya teater (pertunjukan) bisa digambarkan dan diramalkan tentang persoalan kemanusiaan. Dengan itu dunia “kemungkinan” yang akan menyumbangkan pada perubahan sosial. Sebab jikalau kita membayangkan dunia yang masih mungkin (possible world) dan akan tergerak bagaimana membaharui dunia yang sedang terjadi (realitas). Jadi selayaknya dunia pertunjukan itu memberi gambaran, citraan, bentuk masyarakat mana yang dapat disusun yang sementara ini dianggap sebagai dunia imajiner.

*Penikmat Pertunjukan Teater, Anggota Teater Awal XXII Mahasiswa Kosentrasi Sastra di Fakultas Adab dan Humaniora UIN SDG Bandung.              
10.22   Posted by Jamaluddin Husein in
Read More

Senin, 16 April 2012

Cingciripit tulang bajing kacapit
Kacapit kubulu paré, bulu paré seuseukeutna
(Tongtolang Nangka)

Satru - Gk. Rumentang Siang

          BARANGKALI sejak mula peradaban, dosa seperti beban yang enggan enyah dalam diri manusia, dosa itu diturunkan. Menjadi beban, setiap jengkal tubuh manusia seperti telah diguratkan dosa. Nampaknya sulit untuk melupakan dosa. Apalagi dosa turunan; dari mulai nenek-kakek, embah, eyang, sampai tujuh turunan, katanya, dengan bersumpah. Sepertinya laknat jika harus berteman atau berdamai dengan seteru. Pada mulanya adalah perbedaan, kepentingan dan arogansi yang bertelur, beranak pinak dan lebih parah menjadi tradisi bagi kita, manusia. Apakah manusia dicipta dari dosa, hasil perseteruan?

          Satru karya Nazarudin Azhar (Nunaz)realitas politik, cinta, menjadi bernas, di samping dialog yang sederhana (realis) namun satire, penuh guyonan, terkait latar, realitas politik dalam lingkar sederhana (desa), meskipun dibingkai dalam tambahan alur, pemilihan kuwu dan beberapa penggalan adegan. Mungkin saja ini sebenarnya menegaskan, identitas manusia Sunda.

          Kendati demikian, Satru menjadi salah satu pilihan naskah dari Festival Drama Basa Sunda (FDBS-12) Teater Sunda Kiwari, FDBS 12 itu pun telah berlangsung pada tanggal 12 Maret-5 April di GK Rumentang Siang. Naskah tersebut pula yang dipinang Teater Awal UIN Bandung untuk dipentaskan. Tersebutlah pada tanggal 13 Maret Teater Awal mementaskannya, sebagai salah satu teater kampus yang sudah melanglang buana di jagat pementasan itu, Awal ingin kembali mempertahankan gelar yang sempat diraihnya ketika Festival dua tahun lalu. Setelah itu, sebagai juara bertahan, Teater Awal akan mementaskannya kembali di Audotorium UIN SGD Bandung, pada tanggal 27-28 Maret, di Sutradarai Dani Jauharudin dan segenap awak Teater Awal.

Politik- Satire

          Maka, setelah membaca itu, mari kita lihat apa itu Satru? Dalam kamus Sunda-Indonesia R. Satjadibrata (Kiblat: 2011) ialah musuh atau seteru; bisa nyatru; memusuhi; jagasatru nama pegawai zaman dahulu. Dari kata satru itu, menurut saya akan menjelaskan apa yang ada dalam naskah drama yang ketika dipentaskan akan menjadi teks baru, teks dari realitas yang dialihkan ke dalam panggung pementasan melalui narasi dan penggambaran tokoh, dialog, latar dan setting.

 Satru - Aula UIN Sunan Gunung Djati Bandung

          Satru karya Nunaz (Nunu Nazaruddin) tersebut, seperti bercermin pada kehidupan sosial, politik masyarakat Sunda atau bisa jadi terhadap diri kita sendiri. Siapa satru? Bisa saja dia orang terdekat dalam komunitas kita, komunitas sosial kita.

          Narasi pementasan tersebut membicarakan persoalan; politik, cinta dan desa, penggalan peristiwa yang disatukan dalam beberapa adegan. Bahasa realise- satire, penuh guyonan, terkait latar, realitas politik pemilihan Kuwu. Di antaranya tokoh Suminta dan Karyana menjadi lawan atau seteru, Karyana adalah keturunan mantan Kuwu Sahri dan Suminta anak dari Kuwu Darta, telah lama bermusuhan dan masih memperebutkan tahta kepemimpinan desa. Dalam dialog awal, pada adegan pertama tokoh Karyana:

Karyana: Drs. Karyana kudu ganti baju. Teu sudi teuing kudu sarua jeung baju si Suminta!
         Begitu pula terkena implikasinya yakni Rahmat dan Dini, dua tokoh anak muda yang sedang menjalin asmara. Bila dikata sedang pageugeut-geugeutna. Rahmat, anak lelaki dari Raden Suminta dan Dini dari Drs, Karyana, sungguh menarik, dua seteru yang berbeda yang sungguh sulit disatukan. Dalam dialog Rahmat dan Dini:


Rahmat : Iraha rek alakurna nya?
Dini : Nya engek we mun urang nikah, kang…
Rahmat: Lila keneh atuh, pan iteungna ge kuliah keneh dua taun deui…
Dini : Katambah deui ayeuna rek pemilu kuwu. Beuki angot. Itu ieu nganggap satru. Lieur Iteung mah…
Rahmat : Sarua, akang ge lieur, Nyi…

 Satru - Gk. Rumentang Siang

          Pada sisi lain tokoh Darsih istri Karyana dan Sutinah istri dari Suminta. Memperlihatkan sekali realitas keluarga saheng. Adanya tim sukses Kodar, dan Sodik. Kodar menjadi juru kampanye dan pemimpin Laskar Suminta, sementara Sodik menjadi juru kampanye Karyana.

          Ditambah pula, dalam kampanye tersebut dangdut menjadi pilihan, pada semesta saheng. Tokoh Imas Vibrator, sebagai penyanyi dangdut, membuat heboh, kedua belah pihak yang akan mencalonkan kuwu dan peristiwa acara dangdut tersebut mengejutkan yang pada akhirnya membuat seteru itu menjadi bersatu.

Identitas

           Dunia modern; cara pandang dan wawasan, menjadi titik tolak dalam naskah tersebut. Tradisi yang mulai diselaraskan dunia modern, seperti halnya pandangan tentang demokrasi. Maka dari itu, dalam Satru tersebut, suspense dan realitas imajinatif menjadi pelengkap. Dengan epilog yang sederhana, inilah indentitas kita, identitas masyarakat Sunda pasca reformasi 98, pasca kedatangan demokrasi. Saya rasa, pementasan Satru ini tidak hanya para aktor teater, sutradara, penikmat pertunjukan, tapi para politikus, para pejabat harus menonton pementasan ini. Selamat menjadi manusia Sunda!

Pungkit Wijaya - Aktifis Forum Alternatif Sastra dan Anggota Teater Awal Angkatan XXII

Sumber : http://www.suakaonline.com/2012/03/26/resensi-naskah-satru-manusia-sunda/
 
22.11   Posted by Jamaluddin Husein in
Read More

Rabu, 22 Februari 2012

Air menjadi…
Tanah menjadi…
Angin menjadi…
Alam….????


Dua spot lampu atas pada sisi kanan kiri panggung bersinar redup, spot sisi kiri seorang perempuan menggeliat-geliat seperti sedang menari. Gundukan pasir yang menggunduk di depannya kemudian digenggamnya, lalu dibasuhkan ke muka, tangan, dan kaki seperti layaknya seseorang yang tengah melakukan tayamum. Perlahan dengan langkah lamban ia mendekat pada sisi spot sebelah kanan.
Spot pada sisi bagian kanan panggung, seorang laki-laki berkepala gundul setengah telanjang berdiri di dalam sebuah kelambu panjang berbentuk tabung yang membentang dari atas ke bawah. Lambat laun ia pun mulai mengexplorasi tubuhnya, menari memainkan lunglai tubuhnya di dalamnya. Si perempuan mendekati, lalu keduanya saling bersentuhan, mengexplorasi tubuh yang satu dengan tubuh yang lain, mengexplorasi ruang yang satu dengan ruang yang lain. Dan penulis sendiri berasumsi bahwa mereka sedang melakukan proses komunikasi tubuh di antara mereka (sex).
Demikian awal dari sebuah pertunjukan teater yang berjudul EGO, karya /sutradara Yayan ‘Katho’ Musiarso (27/08/08) yang dipentaskan di Galeri UIN Sunan Gunung Djati Bandung garapan Teater Awal yang akan berlanjut di UNSIKA Karawang dan TIM (Taman Ismail Marzuki) Jakarta. Mendengar kata ego, penulis membayangkan dalam pertunjukkan ini adalah sebuah pertunjukkan yang membicarakan tentang oposisi biner tentang sesuatu. Tetapi ternyata tidak! Ego dalam pertunjukkan garapan Teater Awal ini adalah sebuah komunikasi tubuh antara dua lawan jenis laki-laki dan perempuan bagaimana mereka untuk mencipta dan bagaimana untuk menjadi. Mengapa, bagaimana, dan untuk apa?
Freud seorang pelopor psikoanalisis mengatakan bahwa manusia memiliki insting yang sangat mendasar yaitu insting kehidupan (eros) dan insting kematian (thanatos). Insting kehidupan ini di bagi menjadi dua yaitu insting individual dan insting spesies. Insting individual ini adalah sebuah dorongan dari setiap individu bagaimana setiap individu tersebut melakukan sebuah proses pertahanan hidup. Sedangkan insting spesies adalah insting di mana setiap manusia harus menjaga keberlangsungan hidupa spesies mereka (re-generasi). Insting spesies ini merupakan upaya atau dorongan untuk melakukan aktivitas seksual yang bersifat reproduksi di mana kehidupan manusia itu sendiri tetap eksis.
Pada adegan awal dalam pertunjukkan ini, merupakan sebuah proses pemunculan dua karakter yang berbeda di mana pada adegan ini merujuk pada teori Freud tadi, bahwa manusia itu mempunyai insting spesies—melakukan proses komunikasi tubuh (dua lawan jenis berbeda) untuk melahirkan sesuatu (manusia-manusia yang lain).
Kemudian pada adegan selanjutnya, setelah melalui proses persetubuhan di antara keduanya, dari sisi wing kanan dan kiri muncul empat orang laki-laki gundul setengah telanjang dan empat orang perempuan bertopeng Semar berpakaian putih. Pada masing-masing bagian perut pakaian yang di kenakan keempat actor tersebut bergambar seorang bayi yang siap-siap mau dilahirkan. Hal ini mungkin untuk menunjukkan pada para penonton bahwa para perempuan-perempuan itu tengah hamil dan pada adegan ini pula memang keempat perempuan tersebut melakukan adegan di mana mereka sedang berusaha keras untuk melahirkan anak-anaknya. Ketegangan pun berlangsung dengan tata cahaya liar seperti kita tengah berada di dunia pub.
Proses kelahiran pun terjadi, sosok laki-laki muncul dari sebuah property panggung yang lebih menyerupai tulang iga manusia. Ia berlari ke sana ke mari, sesekali berjalan lamban sambil melihat bayangannya sendiri, bersosialisasi dengan ruang di sekitarnya. Seolah-olah sedang berusaha untuk mengenal siapa dirinya dan siapa di sekelilingnya.
Merujuk pada pemahaman penulis mengenai teorinya Freud, bahwa manusia itu tidak hanya memiliki apa yang disebut insting. Melainkan ada satu hal yang dinamai dengan ego. Proses komunikasi tubuh, kelahiran, sampai pengenalan terhadap sesuatu, pada bagian ini penulis berasumsi bahwa proses tersebut merupakan sebuah implementasi dari hasil kreasi dari apa yang disebut dengan ego. Ego sendiri kata Freud bukanlah ke-aku-an dalam mementingkan diri sendiri melainkan ego adalah mengacu kepada keberfungsian diri.
Keberfungsian ini yang nantinya mengacu kepada untuk apa manusia hidup dan bagaimana melaksanakan hidup. Ego dalam hal ini merupakan sebuah strategi psikologi yang dilakukan manusia untuk berhadapan dengan kenyataan dan mempertahankan cita-diri. Posisi ego haruslah sangat kuat karena dapat menjaga setiap individu untuk berada dalam keseimbangan hidup.
Terakhir, Ego adalah pembelajaran. Ego adalah diri. Ego adalah hasrat dan keinginan. Ego adalah hidup dan menghidupi. Ego adalah perjalanan untuk sampai pada ujung-Nya, perjalanan yang akan membuat kita bernama manusia atau perjalanan yang akan membuat kita bukan bernama manusia.
Selamat buat Teater Awal UIN SGD Bandung dalam pementasan ini…
21.10   Posted by Danil Edan in
Read More

Bookmark Us

Delicious Digg Facebook Favorites More Stumbleupon Twitter

Search